GUNUNG MENYAN YANG SEAKAN TERLUPAKAN

Gunung Menyan Desa Selogiri Karanggayam Kebumen
Salah satu situs sejarah di kec.karanggayam kebumen
Gunung Menyan, mungkin masih asing di telinga kita, tapi bagi warga selogiri dan sekitarnya khususnya warga karanggayam bagian utara mungkin keberadaan gunung menyan sudah tidak asing lagi.
di bawah ini kami kutipkan cerita warga yang sering mengunjungi Gunung Menyan.
Suasana sejuk khas pegunungan, pepohonan yang rindang, burung asyik menari berterbangan sambil menyanyi kicauan yang merdu, anginpun tak henti berhembus memaksa rerumputan melambai-lambai. Terlihat jelas atap-atap rumah penduduk, disekitar lereng ada beberapa petani yang sibuk dengan pekerjaan meraka sambil memakai caping gunung (topi terbuat dari anyaman bambu berbentuk kerucut)  khas dari mereka untuk menghindar dari terik matahari. Inilah sekilas tentang suasana di sebuah bukit pegunungan disebuah desa terpencil diperbatsan sebelah barat antara Kabupaten Kebumen dengan Kabupaten Banjarnegara. SELOGIRI itulah nama desa tersebut, Kecamatan Karanggayam, Kabupaten Kebumen – Jawa Tengah.
Karena letak geografisnya yang pegunungan maka banyak sekali bukit menghiasi desa ini salah satu yang dianggap keramat oleh warga setempat adalah “GUNUNG MENYAN”. Ditempat ini terdapat petilasan makanya warga mengangap Gunung Menyan menjadi keramat dan mempunyai mistis yang istimewa. Gunung Menyan mungkin hanya dikenal oleh warga desa selogri dan sekitarnya, karena “Gunung Menyan” bukanlah gunung berapi aktif pada umumnya yang terkenal di Indonesia. “Gunung Menyan” hanyalah sebuah bukit yang dianggap oleh masyarakat setempat mempunyai kekuatan mistis.
 
 Setelah lelah mendaki menyusuri jalan setapa lereng Gunung Menyan, sampailah aku dibawah sebuah pohon pinus besar yang tumbuh dengan suburnya, aku berteduh dibawahnya, hmm, sejuk sekali rasanya meski terik matahari menyengat tapi suasana yang tadi saya gambarkan diawal telah melenyapkan semua itu. Setelah mengusap muka yang penuh keringat akupun membuka botol minuman yang telah ku siapkan dari rumah, menambah suasana nyaman sekali rasanya ketika seteguk minuman dingin mengalir ditenggorokan. Sungguh kepuasan batin yang tiada tara ketika mataku dimanjakan oleh pemandangan yang begitu indah, jauh pandangan mataku tertuju ke sepasang gunung berapi yang masih aktif yaitu sundoro – sumbing, disebelah kanan kiri saya terlihat beberapa bukit yang masih hijau, meski ada beberapa yang kering karena musim kemarau dan lahan yang digarap petani. Aku tersenyum melihat kebawah, ya disitu ada pemukiman penduduk desa Selogiri, atap-atap rumah tertata menambah pemandangan jadi semakin indah. Dan salah satu atap rumah yang terlihat adalah rumahku, yah rumahku memang terletak dibawah lereng “Gunung Menyan”. Kembali aku memanjakan mata meliat jalan setapak yang berada di lereng yang terhubung dengan jalan besar akses ke berbagai Dusun.

 


Teringat akan beberapa tahun yang lalu sebelum memasuki tahun 2000-an, “Gunung Menyan” begitu terkenal diantara warga Desa Selogiri. Yahh,, ditempat ini ketika Hari Raya Idul Fitri (Lebaran) selama tujuh hari begitu ramai dikunjungi warga. Disepanjang jalan setapak yang menuju petilasan di puncak gunung banyak sekali warga duduk-duduk santai sambil bercanda dengan keluarga, saudara, atau teman mereka. Dan setiap orang yang berjalan menuju puncak gunung maupun yang turun selalu menyapa dengan penuh senyum dan berjabat tangan satu sama lain meski tak kenal sekalipun. Moment Hari Raya Lebaran memang disempatkan warga untuk halal bi halal ditempat tersebut, dari berbagai penjuru dusun warga berbondong-bondong menuju kesana, kesempatan ini juga dimanfaatkan oleh banyak warga untuk reuni dengan teman-teman sekolah maupun teman main untuk temu kangen setelah lama tidak bertemu karena sebagian besar anak muda di Dusun sekitar merantau ke luar kota, seperti JABODETABEK dan Kota-kota besar lainya. Kesejukan “Gunung Menyan” menjadikan mereka betah disana, sebagai alternative hiburan atau wisata yang mudah dicapai dan tidak memerlukan

biaya besar.

Tersenyum sendiri aku kala mengingat kenangan disini, yang suatu saat nanti akan kuceritakan pada anak cucu yang mungkin tidak akan mengalami hal seperti itu. Yaahh,, memprihatinkan memang Lebaran beberapa tahun belakangn ini, “Gunung Menyan” tak seramai sebelum tahun 200-an, bahkan jarang sekali warga yang berkunjung ketempat ini. Mungkin karena perkembangan zaman, semua warga Dusun disekitar gunung sudah dapat menikmati perkembangan teknologi. Mereka sudah tidak lagi berkunjung ke sana untuk berwisata, mereka lebih memilih untuk berwisata ke tempat lain seperti Pantai, Kebun Binatang, Waterboom, atau tempat wisata lainya yang lebih menarik. Hmmm,, lain dulu lain sekarang, mungkin dulu wisata yang mudah dijangkau adalah Gunung Menyan, karena memang transportasi dulu sangat sulit didapat, warga yang mempunyai sepeda motor kala itu masih bisa dihitung jari. Tapi diera yang katanya modern ini sudah kita ketahui bersama hampir setiap rumah di Dusun Sekitar mempunyai sepeda motor, tak sedikit yang lebih dari 2, bahkan kendaraan roda empat atau lebih sudah ada yang memiliki. Jadi dengan begitu cepatnya perkembangan teknologi untuk mencapai tempat wisata yang dulu susah dijangkau, sekarang tidak ada halangan yang berarti. Yaah, sadar atau tidak sadar perkembangan zaman telah secara perlahan mempengaruhi gaya hidup searah dengan dunia yang serba modern, tak terkecuali dengan warga Dusun sekitar Gunung Menyan yang muali perlahan meninggalkan tradisi dulu untuk beralih mengikuti perkembangan zaman. Meski demikian tradisi nenek moyang juga tidak serta merta hilang begitu saja, warga Dusun masih melestarikanya tradisi nenek moyang mereka, hanya saja tidak seramai zaman dulu. Malah yang lebih memprihatin sekarang, banyak generasi muda seakan-akan atau memang tidak mau belajar untuk melestarikan (Hehee, maaf termasuk aku). Mereka terbuai dengan glamor kehidupan di kota-kota besar tempat mereka merantau. Bahkan menyedihkan sekali pernah ditemui seorang teman yang telah lama merantau ketika pulang lupa akan bahasa ibu (bahasa daerah) atau sering disebut bahasa “Ngapak” mereka, dan tak jarang yang tidak lupa malah malu untuk menggunakan bahasa tersebut. Akan tetapi sekarang generasi muda setempat sudah mulai menyadari betapa pentingnya melestarikan kebudayaan atau tradisi nenek moyang mereka.

 
“Boleh saja, bahkan sudah menjadi keharusan bagi kita untuk terus mengikuti dan beradaptasi dengan perkembangan zaman, akan tetapi itu semua jangan menjadikan kita lupa akan kebudayaan dan tradisi yang telah diwariskan dari nenek moyang kita, untuk tetap melestarikannya, supaya kelak kita dapat mewariskan juga pada anak cucu kita.”
 
Mari bersama-sama kita uri-uri budaya kita yang sejujurnya banyak sekali pelajaran yang dapat kita pergunakan didalam kehidupan.

7 thoughts on “GUNUNG MENYAN YANG SEAKAN TERLUPAKAN

  1. Ping-balik: Ambar Nurhayati » Blog Archive » IMUNISASI

Minta saran dan komentarnya dong....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s