MENUNTUT ILMU, BERANGKAT SEKOLAH SEBERANGI KALI

Menuntut Ilmu, Berangkat Sekolah Seberangi Kali

 

KARANGSAMBUNG (The Independent News) – Untuk menghemat biaya transportasi, siswa SMP Negeri 1 Karangsambung yang bermukim di wilayah Kecamatan Karanggayam, memilih berangkat dan pulang sekolah dengan menyeberangi Sungai Luk Ulo melalui Bendung Kaligending. Namun jika sungai sedang banjir, terpaksa mereka menempuh jalan melingkar yang cukup jauh dengan 2 kali naik angkutan pedesaan.

Bagi siswa asal Desa Karangrejo, Kecamatan Karanggayam, menyeberangi sungai dilakukan karena jarak sekolah dengan rumah hanya dipisahkan oleh Sungai Luk Ulo. Mereka bermukim di sebelah barat sungai, sedangkan lokasi sekolah berada di sebelah timur sungai. “Jarak rumah dengan sekolah hanya sekitar 500 meter. Karena tidak ada jembatan, terpaksa menyeberangi sungai,” ujar Awan sambil mengenakan sepatu setelah menyeberangi sungai untuk kembali ke rumahnya di Dukuh Sembada, Desa Karangrejo.

Menyeberangi sungai melalui Bendung Kaligending juga dilakukan siswa dari desa lain di Kecamatan Karanggayam. Seperti Deni siswa kelas 2 asal Desa Kebakalan, Kecamatan Karanggayam. Ia memilih menyeberangi sungai karena hanya butuh sekali naik angkutan pedesaan untuk sampai di sekolah. “Dari rumah naik angkutan ke Bendung Kaligending. Setelah itu jalan kaki ke sekolah dengan menyeberangi sungai,” jelasnya.

Namun jika malam hari turun hujan, siswa akan berangkat sekolah menggunakan jalur lain karena dipastikan Sungai Luk Ulo banjir. Jaraknya pun lebih jauh dengan 2 kali naik angkutan. Dari rumah, naik angkutan ke Desa Wonotirto, Kecamatan Karanggayam. Setelah itu jalan kaki ke Terminal Karangsambung dengan menyeberangi Sungai Luk Ulo melalui jembatan gantung. “Dari Terminal Karangsambung, naik angkutan lagi,” ujar Deni.

Jika melalui Karangsambung, perjalanan menuju sekolah 1 jam lebih. Ketepatan waktu juga tidak bisa diharapkan karena jumlah angkutan yang terbatas. Tidak mengherankan jika pada jam pergi dan pulang sekolah, angkutan pedesaan dipenuhi puluhan siswa yang tidak ingin terlambat sekolah meski harus bergelantungan atau bahkan duduk di atas kap.

Kebiasaan menyeberangi sungai melalui Bendung Kaligending yang lebarnya 87 meter, juga dilakukan warga. Kebiasaan itu membuat penjaga bendung, Kasim (50), kerap memberi peringatan untuk berhati-hati. Bahkan melarang menyeberangi sungai ketika arus sungai deras. (Suk/krjogja) 

 

Minta saran dan komentarnya dong....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s